Belakangan muncul banyak kontroversi mengenai hitung cepat hasil pemilu. Pada saat isu pelarangan pengumuman hasil hitug cepat, salah satu pentolan hitung cepat Denni JA mengungkapkan bahwa pelarangan tersebut sama saja dengan pembatasan mimbar akademik. Ok, berlindung di belakang kata mimbar akademik.
Tapi di sisi lain, anehnya, Mimbar Akademik ini ternyata tidak netral lagi, Yang namanya Mimbar akademik, seharusnya berpandangan netral, tidak berafiliasi pada aliran atau kelompok tertentu. Lha, katanya MIMBAR AKADEMIK? Kemudian muncul political endorsment, yang jelas-jelas menempatkan MIMBAR AKADEMIK pada peta politik, soal dukung-mendukung capres-cawapres tertentu. Denni JA mendukung SBY-Boediono secara terang-terangan di media massa. Bahkan belakangan muncul gerakan aneh, “Pemilu Satu Putaran”.
Demokrasi kita diaduk-aduk dengan prosedural. Esensi demokrasi sebagai jalan untuk menempatkan suara rakyat sebagai suara Tuhan direduksi jadi ronde layaknya main tinju.
Ah, katanya mimbar akademik? Kok rasanya kelakuan dan cara pikirnya pragmatis gitu yah? Uhm…
Coba tengok juga link berikut:
Quick Count dan skeptisme cerdas
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

info yang menarik. Thank’s
positif thinkingnya : dgn satu putaran, biaya yg dikeluarkan menjadi lebih hemat. capres terpilih juga mempunyai dukungan suara yang mantap, bukan suara hasil pelarian capres lain jika terjadi dua putaran.
negatif thinkingnya : yahhh sesuai dengan opini yg timbul dgn adanya wacana ini saja…
kalau kita memang tidak mau ada pemilu berkepanjangan, jangan buka opsi calon lebih dari 2. Beres khan? Harus ada mekanisme untuk mengatur, tapi tetap demokratis, yang mengerucutkan 2 calon saja. Gitu aja kok repot… Jadi jangan korbankan demokrasi hanya karena alasan yang dibuat-buat…
setuju. dan ini adalah salah satu opini tsb
bedakan pendapat saya ‘dgn satu putaran’ dibandingkan dengan wacana satu putaran iklan lsd tsb di atas.
‘dgn satu putaran’ artinya sudah berakhir satu putaran. dan kita tinggal bicara manfaatnya. sedangkan iklan itu memang tidak sesuai dengan kode etik kenegarawanan kalo menurut saya. imho
salam…
yang lebih aneh kan SBY dengan pencitraan diri nya , orang yang paling baik , menganggap orang lain belum berpengalaman , beliau tidak sadar Obama yang terpilih itu juga tidak berpengalaman jadi Presiden.
Masalah BLT kan bilang nya dari subsidi BBM ternyata setelah audit BPK uang dari utang koemrsial yang bunga nya 12-13 % gimana nih , teru LSI lewat Fox mengkampanyekan satu putaran ini kan mempengaruhi kedaulatan rakyat untuk mengarah kan dukungan ke SBY , saya dengar uang nya dari asing masuk ke FOX perlu klarifikasih nih
yaaahhh biarin doong jangan sirik ama pemilu satu puteran…..
malah jadi rekor kaleeee =)
hanya pihak2 yang merasa terancam ajah yang gag setuju pemilu satu putaran…karena jelas bangettzz yang menang pak SBY….
Berpikir cerdas lah, masalahnya iklannya tidak netral. Iklan itu lewat televisi jelas-jelas menggiring ke calon nomer 2. Itu yang jadi masalah.
Ko orang itu ga punya rasa malu yah
SBY Presiden GEBLEG, Doktor dia Palsu seperti Ratu Atut Chosiyah dibuatkan sama Profesornya di IPB namanya Joyo Winoto dan Hermanto Siregar Terus sama Kahiril Notodiputro. Gila ya? Nggak heran semua main maksa saja.
Nggak ada yang mau ngecek keabsahan ijazah S3 dia di FEP di IPB?????? Bener-bener nggak asli lho.
Kalau SBY Doktornya asli kan nggak harus ada cerita padi supertoy dan kasus blue energi ya?