Kenapa Golput? Kenapa Tidak?

Golput dikecam oleh banyak tokoh politik, di antaranya mantan presiden Megawati. Golput, golongan putih, muncul ketika pilihan tidak lagi berarti. Banyak partai, tapi cuma tong kosong nyaring bunyinya. Pintar ngomong pada saat kampanye, tapi nol besar pas sudah berkuasa. Berikut ada blog yang menulis tentang kenapa Golput?

1. Terhambat oleh regulasi yang berkaitan dengan Pemilu.

Individu tidak terdaftar sebagai pemilih, tidak menerima kartu pemilih, bahkan mungkin karena kehilangan KTP/SIM, gak punya duit untuk mengurus salah satu dari keduanya, maka ia tidak bisa menjadi pemilih (no Id belongs to him/her)…

2. Kelelahan secara Politik

Individu yang tidak memilih, telah mendapatkan pengalaman yang berharga selama ia menjalani proses pemilu-pemilu sebelumnya. Ia tidak mendapatkan bahwa aspirasi yang ia usung dan atau aspirasi masyarakat secara komunal, dapat diapresiasi oleh anggota dewan terpilih.. Individu ini, lebih dapat menghargai pilihan mereka sebagai bentuk “harapan”  terakhir… Sejatinya, mereka dapat menjadi golput dengan memberdayakan kegolputan yang mereka miliki, tapi keadaan ekonomi, serta pengalaman pahit yang mereka terima, mungkin lebih dominan dibandingkan harapan yang layak ada pada dirinya. Ia sadar tidak memilih, hanya semata-mata pertimbangan pribadi yang ia miliki…

3. Sadar akan Ketidakberdayaan atau Keberdayaan Golongan Putih

Anggota masyarakat yang memilih pilihan ini sebagai pijakan golput yang mereka lakukan, sejatinya adalah individu yang menghargai hak sebagaimana kewajiban. Hak yang mereka terima, berdampak lurus dengan konsekuensi untuk menjaga hak secara paripurna.  Mereka memahami, apabila hak yang mereka ambil (memilih) tapi dapat membawa dampak buruk bagi diri mereka maupun anggota masyarakat lain (terpilihnya anggota dewan yang tidak kompeten), maka mereka memilih untuk tidak mengambil hak tersebut…

Kalau boleh menambahkan, kayaknya pendukung Golput akan semakin banyak, melihat kenyataan bahwa DPR kita sekarang ini cuma jadi sarang penjahat, tempat terjadinya transaksi-transaksi politik uang, kebijakan tutup mulut, atau suap untuk memuluskan kepentingan.

Pranala luar:

  • Golput Unggul dalam Pilkada Jabar. Bandung (ANTARA News) – Tidak hanya di DKI Jakarta, keunggulan “Golput” juga merembet ke Pilkada Jawa Barat, tempat jumlah warga yang tak menggunakan hak pilih pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar 2008 mencapai 9.130.604 suara, melebihi perolehan masing-masing ketiga pasangan peserta Pilgub.
  • Golput… Enggak… Golput… Dengan jumlah partai sebanyak 34 buah, saya jadi bingung untuk memilih salah satunya. Tahun depan sebaiknya golput, enggak, golput, enggak…. tokek… tokek… tokek…! Hihihi…
  • Aku Tetap Golput. Ada yang bilang pengecut, ada yang bilang tak bertanggung jawab, bahkan Gus Dur bilang di Kompas, golput tidak ikut memilih, tapi apapun hasilnya tetap aja ikut menikmati.
  • Golput Tak Boleh jadi WNI. Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan warga yang sengaja tidak menggunakan hak pilihnya (golongan putih/golput) baik dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) maupun pemilihan umum (pemilu) semestinya tidak boleh menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
  • Golput dan Kegagalan Partai Politik. Yang lebih ironis dari sekadar golput, pemilu langsung yang menghabiskan ratusan triliun rupiah itu menghasilkan banyak para wakil rakyat dan kepala daerah yang korup dan bermasalah. Sudah terlalu sering media kita mempublikasikan para pejabat dan wakil rakyat yang korup di seluruh daerah di Indonesia. Bahkan menurut catatan Kompas, pemerintahan dari Aceh hingga Papua sudah terjerat korupsi, tanpa kecuali.
  • Membaca Potensi Gloput pada Pemilu 2009. Tingginya angka golput dalam pilkada itu disebabkan oleh macam-macam faktor. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) melihat, penyebab paling dominan adalah proses pendaftaran pemilih yang amburadul. Persoalan dasarnya ada pada data penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) yang dibuat pemerintah. DP4 itu diserahkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kepada KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota. Selanjutnya KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota memverifikasi data itu, kemudian menyusun daftar pemilih sementara (DPS). Ternyata, banyak DP4 yang diserahkan itu tidak valid. Berkali-kali, data itu dikembalikan ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, tetapi tidak ada perbaikan signifikan.
Reblog this post [with Zemanta]

3 thoughts on “Kenapa Golput? Kenapa Tidak?

  1. Siapa aja boleh golput…asal yakin dan mengetahui secara mendalam tentang pijakan dirinya menjadi GOLPUT….Selamat Golput…

    Tolong untuk admin…blog atau situs pendukung golput…juga dirujuk langsung…bisa dilink dari front page mampus…biar ada pengayaan khazanah aja.

    Viva Golput…

    Makasih atas sarannya. Dengan senang hati kami akan penuhi…

  2. Pemberantasan korupsi telah dijadikan slogan kampanye politik pilpres-2009 lalu. Apa kenyataan sekarang? KPK di preteli!

    Menjadi Golput adalah pilihan REAL bagi kita yang sudah tidak sudi lagi diperbodoh oleh janji-janji kampanye!

    Viva Golput!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s