Kwik Kian Gie: Indonesia Menggugat

Menanggapi pidato Boediono pada waktu deklarasi Capres-Cawapres di Bandung, Kwik Kian Gie menulis panjang lebar tentang Indonesia Menggugat, dan seputar sejarah perjuangan kelas menengah di Indonesia. Di tulisan ini juga mengupas beberapa hal mengenai perekonomian NeoLiberal, yang seringkali dituduhkan kepada Boediono. Menurut web ini, tulisan Kwik yang berjudul “INDONESIA MENGGUGAT JILID II ?” Menjabarkan Pidato Proklamasi Calon Wakil Presiden Boediono ini semoga bisa memberi semangat baru untuk kita:

Siapa kekuatan dari luar yang sedang menjajah Indonesia, dan siapa pula kekuatan dari dalam? Apakah kekuatan luar dan kekuatan dalam ini menjajah Indonesia secara sendiri-sendiri ataukah bersama-sama dalam sebuah konspirasi, di mana elit bangsa Indonesianya yang menjadi mitra dari luar bertindak sebagai pengkhianat kepada bangsanya sendiri?

Sejak kapan Indonesia dijajah dengan tanggal pidatonya sebagai titik tolak, yaitu tanggal 15 Mei 2009. Apakah mulai tanggal itu Indonesia dijajah dalam bentuk yang ada dalam benak Boediono, ataukah sebelumnya sudah. Kalau sebelumnya sudah, siapa kiranya yang menjajah dan siapa kiranya kroni dan kompradornya para penjajah yang berbangsa Indonesia (kekuatan dari dalam) ? Boediono tentu dapat mengenalinya dengan akurat karena dia cukup lama menjadi orang di dalam lingkungan puncak kekuasaan.

Silakan simak tulisan lengkapnya bagian pertama di sini, dan bagian kedua di sini. Format pdf dari web koraninternet.com dapat didonlot di sini.

4 thoughts on “Kwik Kian Gie: Indonesia Menggugat

  1. Setuju, memang terlalu banyak kebohongan publik. Ini pemerintah apa lagi ya? Rakyat hanya dijadikan alat dan dianggap sampah. Padahal kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Tetapi kita perlu memerangi mentalitas yang buruk dan orang-orang tidak kapabel dan kita perlu bersama atau kelompok masing-masing. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia belum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel. Membela sesama manusia di Palestina penting, tapi jangan sampai kita diperalat oleh tokoh-tokoh yang suka mengeksploitasi sentimen sesama manusia atau agama atau etnis untuk kepentingan dia-dia orang.

    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Tifatul itu tidak berguna. Negara mau dikemanakan?

  2. PKS dan Tufatuk bagus kok. Tapi tv-tv itu yang kurang bagus, Ibu. Enggak habis pikir gimana kakak wartawati ini, Najwa Shihab, yang enggak ada nyali sedikitpun, dan beraninya hanya membuat acara dari sudut sejarah saja, seperti dalam acara Mata Najwa, bukan segi-segi aktual dan signifikan untuk kepentingan rakyat Indonesia masa kini, bisa mendapat award. Tapi wajar, semua lulusan Barat enggak akan terlalu sulit memperoleh penghargaan seperti itu, sebab ikut mempromosikan kepentingan Barat, atau setidaknya diam terhadap kebergsekan, kemunafikan dan standar ganda Barat. Padahal orang-orang seperti Kakak Najwa enggak mungkin punya mata dan hati serta mengkritisi Barat, sebab dia bekerja di media pengeruk keuntungan juga, bukan media total independen atau dibiayai sebuah yayasan norlaba. Kakak Najwa juga disekolahkan gratisan tepatnya melalui beasiswa dari pemerintah pro barat, dalam hal ini pemerintah Australia. Kalau ada wartawati/wan Indonesia lulusan non-Barat, misalkan lulusan Rusia atau bahkan Korea Utara, lalu mampu mendapat penghargaan itu, baru kita akan salut. Itulah jurnalisme sejati, jurnalisme tanpa berpihak. jadi kita harus sadar hal itu, ini bukan berarti saya kekiri-kirian. Ini bukan soal kiri dan kanan, tapi soal jelas dan nyata adanya kepentingan Barat, yang menyelinap halus di bangsa ini melalui rezim-rezim sejak masa Soeharto, dan diteruskan rapi oleh SBY. Media tempat Kakak Najwa bekerja pun sangat bangga dan sangat ambil manfaat ini, untuk maksud-maksud ekspose, seperti saat membanggakan semu pada wartawati Andini Effendi yang dikirim ke Libia dan negara tetangganya, tanpa menghasilkan liputan-liputan besar, tapi hanya seolah dekat dengan mara bahaya, bom-bom berjatuhan, dan tersirat seakan dia “dekat nyaris kena bom”. Itu bukan berita. Lebih baik ambil dari kantor berita Tv-Tv Barat yang sangat rinci dan canggih dalam melihat kebenaran, dalam melihat siapa yang benar dan siapa yang jelas. Mana mungkin penguasa macam Khadafi justru diam-diam dibela oleh MetroTV, terlihat dari uraian-uraiannya, hanya karena mungkin takut kurang membela umat Islam, itu sebuah blunder Metro TV. Itu semua hanya untuk gengsi-gengsian saja. Tidak ada yang bermakna, melihat kebenaran pun tidak mampu, samasekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s