Cicak VS Buaya – The Series

Picture 6

Dari Politikana.com. web politik 2.0 yang sedang ramai membicarakan tentang kasus Cicak vs Buaya ini, ada beberapa artikel menarik. Mulai dari kronologi singkat kasus Bibit-Chandra, dan tentang rekasi Presiden terhadap kasus ini. Meski dalam artikel lain di sini pernah dipasang cerita mengenai alasan POLRI menahan Bibit-Chandra, mungkin artikel-artikel berikut bisa melengkapi informasinya.

Apa Sebenarnya Masalah Bibit – Chandra? –

Tulisan Prajnamu, mengulas masalah yang disangkakan kepada Bibit-Chandra. Pada awalnya, Bibit-Chandra disangka menerima suap dari Anggoro melalui Ary Muladi. Karena tuduhan itu mentah, lalu setelah proses lebih lanjut, kemudian muncul tuduhan lain, yang menggunakan Pasal 23 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang berbunyi:

“Dalam PERKARA KORUPSI, pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220, Pasal 231, Pasal 421, Pasal 422, Pasal 429 atau Pasal 430 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 dan paling banyak Rp. 300.000.000,00.”

Dan Jo Pasal 421 KUHP yang berbunyi:

“Seorang pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan memaksa seseorang untuk melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.”

Karena inilah, POLRI menjadikan kasus ini menjadi kasus Pidana. Dengan logika sederhana, yang digunakan POLRI adalah, Bibit-Chandra mengetahui sebuah perkara korupsi, tetapi TIDAK MELAKUKAN dan/atau MEMAKSAKAN sesuatu (dalam hal ini berkaitan dengan kasus pencekalan dan penarikan cekal Djoko Tjandra dan Anggoro Wijaya).

Mencermati kalimat dalam UU No. 21/1999 Jo Pasal 421 KUHP tersebut, cara “memahaminya”, kalau seorang pejabat MEMBIARKAN atau MEMAKSA seseorang melakukan KORUPSI, maka ia bisa dikenakan pasal itu. Apakah itu yang dilakukan sebenarnya oleh Bibit-Chandra? Berkaitan dengan kasus yang mana pasal MEMAKSA itu disangkakan terhadap mereka?

Dalam artikel lain mengenai duduk perkara kasus Djoko Tjandra, dijelaskan:

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeberkan alasan mengapa mereka mencekal dan kemudian mencabut pencekalan Joko Tjandra. Joko Tjandra dicekal karena diduga mengalirkan uang ke Arthalyta Suryani, terpidana penyuap Jaksa Urip Tri Gunawan. Ternyata setelah diselidiki uang itu tidak mengalir ke Artalyta, tetapi ke sebuah yayasan berinisial KS. Itu sebabnya pencekalan itu dicabut. Artinya, Djoko tidak terkait dengan penyuapan Artalyta itu.

Pembelokan tuduhan, dari suap, lalu keputusan yang tidak dibuat kolektif, menjadi tuntutan hukum pidana membiarkan/memaksa itu yang menurut saya aneh dan terkesan memaksa. Hal ini mengakibatkan distorsi opini, dan kebingungan. Plus karena sampai sekarang kasus ini tidak juga maju ke pengadilan, saya sendiri tidak tahu persis masalah sebenarnya lalu apa? Berkembanglah spekulasi macam-macam mengenai kriminalisasi KPK itu.

Reaksi Presiden dengan Tim Pencari Fakta

Tulisan lain dari Rusdi Mathari mengenai Tim Pencari Fakta yang dibentuk Presiden, sebagai reaksi atas berkembangnya kasus ini, juga menarik disimak. Biar bagaimanapun, kasus Cicak-Buaya ini bersilangsengkarut dengan kasus Bank Century. Kasus itu, dengan angka 6,7 Trilyun rupiah yang terlibat di dalamnya, bisa menjadi kasus perbankan terbesar di negeri ini dalam sejarah. Banyak yang tidak heran, kalau keterlibatan KPK dalam mengusut kasus ini akan diserang sedemikian rupa, karena melibatkan orang-orang penting. Berikut kutipan artikel Rusdi Matari dari Politikana.

Satu hal yang kemudian gagal dibaca oleh Presiden SBY dan para staf khususnya, penolakan masyarakat terhadap Polri yang menahan Bibit dan Chandra, sebetulnya bukan karena semata dan berpangkal pada penahanan dua orang itu. Penolakan itu muncul, karena ada semacam kesadaran kolektif berupa ketidakpercayaan publik terhadap kinerja lembaga penegak hukum yang dalam konteks ini diwakili oleh Polri, dan juga ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Hulunya adalah skandal Bank Century, bank busuk yang “ditolong” pemerintah dengan dana Rp 6,7 triliun.

Sebelum “ditolong” pemerintah dan berganti nama menjadi Bank Mutiara, pemilik bank ini adalah Robert Tantular. Dia adalah spekulan besar di pasar keuangan nasional. Keluarganya dikenal memiliki reputasi buruk di dunia keuangan. Karena kasus Century, Robert divonis empat tahun penjara. Hukuman itu lebih ringan empat tahun dari tuntutan jaksa yang delapan tahun.

Sekitar lima bulanan setelah bank itu diselamatkan, muncul surat Susno tertanggal 7 April 2009. Surat bernomor R/217/IV/2009/Bareskrim itu ditujukan kepada Direksi Bank Century dan menjelaskan soal dana milik Boedi Sampoerna. Dia adalah keluarga Sampoerna, pendiri pabrik rokok HM Sampoerna, dan bos PT Lancar Sampoerna Bestari. Beredar luas kabar, Boedi termasuk salah satu penyokong utama SBY di musim pemilu lalu, termasuk dengan menerbitkan sebuah koran nasional.

Di Century, Boedi adalah nasabah kakap. Dalam sidang perkara penggelapan dana senilai Rp 400 miliar milik nasabah Bank Century di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, 10 Agustus silam terungkap, sejak 1998 Boedi menyimpan dana Rp 2 triliun dalam bentuk deposito di Century. Dana sebesar itu disimpan Boedi di beberapa kantor cabang Century di Surabaya.

Ikut Reksadana
Di persidangan itu juga terungkap, uang Boedi diinvestasikan dalam bentuk produk reksadana di PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia. Nama terakhir adalah perusahaan efek yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan nomor akta pendirian No. 227, 26 Oktober 1989 dan modal dasar Rp 60 miliar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pemegang saham Antaboga adalah PT Mitra Sejati Makmur Abadi (17,82%) dan PT Aditya Reksautama (82,18%). Di perusahaan yang disebut terakhir itu, Robert Tantular bersama Hartawan Alumni memiliki saham.

Melalui Antaboga yang sahamnya dikantongi lewat Aditya Reksautama itu, Robert juga menggenggam sebagian saham kepemilikan Century, selain atas nama pribadi. Karena kepemilikan silang itu, Robert lalu menawarkan produk Antaboga kepada nasabah Century dengan iming-iming bunga tinggi. Itu berlangsung sejak 2005.

Saat itu dan tahun-tahun sebelumnya, perbankan memang giat menawarkan produk reksadana menyusul maraknya produk itu. Investasi gaya baru itu, menjanjikan perolehan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan deposito perbankan. Jika rata-rata pembayaran bunya deposito misalnya hanya sekitar 10%, maka reksadana memberikan bunga hingga 14% per tahun. Riset sebuah perusahaan sekuritas menyebutkan, jika seorang investor menanamkan 100 perak di reksadana di awal tahun, maka di awal tahu berikutnya, jumlah uangnya akan menjadi 127,75 perak. Bandingkan misalnya dengan deposito berjangka satu bulan, yang setelah setahun hanya sanggup membiakkan duit menjadi 113,93.

Ketika kali pertama dikenalkan pada 1996, reksadana nyaris hanya dilirik oleh kalangan tertentu. Enam tahun kemudian, investasi ini menggoda banyak orang untuk mencobanya. Ledakan bisnis reksadana yang paling dahsyat terjadi sejak September 2002.

Pemicunya tak lain adalah obligasi pemerintah yang ditempatkan di perbankan (obligasi rekap). Ketika itu, obligasi rekap mulai dilepas oleh bank-bank yang mendapatkannya dan reksadana yang menangkapnya. Hampir setiap bank besar dan perusahaan sekuritas lalu bermain di produk itu. Apalagi bunga suku bunga deposito juga turun —menyusul turunnya bunga Sertifikat Bank Indonesia—sementara perdagangan saham pada masa-masa itu juga lesu. Maka seperti api menemukan bensin, minat orang dan perbankan terhadap reksadana lantas menjadi luar biasa.

Tak genap setahun setelah Century menawarkan reksadana Antaboga, Bank Indonesia mengeluarkan larangan kepada perbankan untuk menjual produk reksadana. Namun Century tetap nekat, meski diketahui kemudian, reksadana yang dijual itu bukan produk Century dan bodong. Kasus penggelapan dana nasabah Antaboga itu mulai terkuak, Desember 2008.

Saat itu ratusan nasabah Century melaporkan kerugian yang mereka derita karena membeli produk investasi Antaboga lewat Century. Duit nasabah yang hanyut dalam kasus ini awalnya hanya sekitar Rp 240 miliar. Namun angka itu akan terus bertambah karena para nasabah kakap seperti Boedi Sampoerna juga ikut menanam uangnya di Antaboga.

Dan ini yang terungkap di PN Surabaya, 10 Agustus silam: Boedi ternyata menginvestasikan uangnya ke produk reksadana sejak 2006. Dari Berita Acara Pemeriksaan Boedi yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Ramel Jesaya, diketahui “Saksi (Boedi) tertarik untuk membeli produk Antaboga setelah ditawari oleh Lila Komaladewi Gondukusumo dan Siti Aminah, bahwa bunganya mencapai 15 persen atau jauh lebih tinggi dari bunga Bank Century.” Lila adalah Direktur Pemasaran Bank Century Wilayah V (Surabaya dan Bali) dan Siti adalah salah satu kepala cabang Bank Century di Surabaya.

Lalu bagaimana nasib uang Boedi? Rupanya setelah Century “ditolong” dengan penuh perhatian oleh pemerintah, dana Boedi juga kunjung keluar. Sama dengan dana-dana milik para nasabah Century yang lain, yang ikut membeli reksadana Antaboga. Karena tak kunjung cair itu, Boedi meminta jasa baik Susno, yang lantas mengeluarkan surat R/217/IV/2009/Bareskrim 7 April 2009 itu.

Susno bercerita, surat itu diterbitkan karena Century memang meminta surat itu pada polisi. Ingin meminta kepastian tentang status uang Boedi, karena yang bersangkutan hendak mencairkan dananya. Dengan alasan surat Susno tak menyebutkan nilai dana milik Boedi US$ 18 juta, manajemen Century meminta surat yang lebih terang. Susno karena itu menerbitkan surat kedua tertanggal 17 April 2009 dengan menyebutkan nilai uang Boedi.

Ruangan Susno
Tak lalu dengan dua surat dari jenderal polisi itu, uang Boedi lantas benar-benar cair. Entah bagaimana ceritanya, orang-orang Boedi dan Century kemudian bersepakat bertemu. Tempatnya: di Ruang Bareskrim Mabes Polri, tempat Susno berkantor. Kabarnya berkat pertemuan itu, urusan dianggap selesai meski tak dijelaskan apakah uang Boedi benar-benar cair atau tidak.

Dari sanalah muncul tudingan Susno mendapat imbalan Rp 10 miliar. Ada juga yang menyebutkan Susno kebagian jatah 10 persen dari nilai US$ 18 juta milik Boedi yang ditanam di Century meski semua itu, niscaya dibantah oleh Susno. “Saya tak menerima suap. Tak ada yang berlebihan yang saya lakukan, hanya menjelaskan status dana milik Boedi Sampoerna itu,” kata Susno (lihat “Surat Jenderal Susno dan Tuduhan Upeti 10 M” Vivanews, Rabu, 16 September 2009).

Selasa 30 Juni 2009, Susno berkoar-koar, telepon genggamnya disadap. Pekan awal Juli 2009, tiga wartawan Tempo mewawancarainya perihal penyadapan itu. Susno akan tetapi tak mau berterus terang mengatakan, siapa yang menyadap. Sebaliknya dia melontarkan pengandaian buaya dan cicak. Banyak orang lalu menafsirkan, buaya yang disebut Susno sebagai representasi Polri dan cicak adalah KPK. Soal kenapa Susno melemparkan istilah buaya dan cicak itu, tentu bukan karena dia misalnya doyan daging buaya dan sebaliknya jijik melihat cicak.

Penjelasan yang lebih terang justru muncul dari KPK dua bulan kemudian melalui penjelasan Bibit. Kata dia, memang ada penyadapan tapi bukan untuk Susno. Pihak KPK kata Bibit sedang menyadap telepon genggam seseorang dan telepon Susno masuk ke telepon yang disadap. “Itu saja kok. Tidak sengaja. Jadi, bukan kita yang menyadap Susno tapi Susno-nya yang masuk ke penyadap kita,” kata Bibit.

Bibit tentu tak membeberkan siapa orang yang teleponnya disadap oleh KPK tapi jelas penyadapan itu berhubungan dengan skandal Bank Century. Cuma belakangan, Polri mencari-cari celah menghubungkan kasus penyadapan itu dengan penyalahgunaan wewenang petinggi KPK dan sebagainya, hingga berujung kepada penahanan Bibit dan Chandra yang dianggap melakukan “kejahatan” menyadap dan mencekal Anggoro Widjojo.

Dia adalah Direktur Utama PT Masaro Radiokom, tersangka dan buronan KPK untuk perkara dugaan suap kepada sejumlah anggota DPR dalam sebuah proyek Departemen Kehutanan. Polisi tidak pernah menyidik Anggoro, yang kini berada di Singapura tapi, seperti sudah luas diberitakan dan diakui oleh kepolisian: Susno, pernah menemuinya di negeri tetangga itu.

Pertanyaannya kemudian, untuk apa tim independen dibentuk Tuan Presiden, jika tugasnya hanya mencari fakta kasus hukum Bibit dan Chandra dan mengabaikan ujung pangkal persoalan yang sebenarnya: skandal Bank Century?

Benar, dalam beberapa hari ke depan, penolakan publik terhadap penahanan Bibit dan Chandra mungkin memang bisa diredam, misalnya karena atas rekomendasi tim independen, Susno kemudian dicopot dari jabatannya. Citra Tuan Presiden pun akan terselamatkan. Tapi setelah itu, siapa yang berani menjamin, gelombang publik tidak akan semakin menjadi lebih besar kalau masalah utamanya; skandal Bank Century, orang-orang yang terlibat dalam pelemahan KPK, dan pertemuan orang-orang Boedi dengan manajemen Century di ruang kerja Susno juga tidak diungkap?

Dengan kalimat lain, jika hanya bertugas mencari fakta kasus penahanan Bibit-Chandra, keberadaan tim independen itu sebetulnya tak ada gunanya, kecuali hanya untuk menyelamatkan citra Presiden SBY.

=================

Kesimpulan? Politisi busuk, yang bisa diacak-acak oleh makelar. sialnya, bukan cuma hasil Pemilu yang memungkinkan hasil ini terjadi, tapi juga ketidaktahuan masyarakat tentang rekam jejak para pemimpin yang duduk di eksekutif. Sudah seharusnya rekam jejak pejabat pemerintah/publik ini di share lebih sering ke masyarakat, dan masyarakat juga jangna ragu-ragu memantau kelakuan mereka. Usir Politisi Busuk dari bumi Indonesia!!

Selengkapnya, lihat Politikana.com

10 thoughts on “Cicak VS Buaya – The Series

  1. Ada yang menganggap demo lalu dan rekayasa rekaman itu menargetkan SBY, itu terlalu jauh dan tidak gampang. Mustahil ada people power di sini. Belum ada bukti sejarah. Gerakan kerusuhan dan mahasiswa 1997&8 karena ada yang menggerakan, Paman Sam, yang sudah ngak senang dengan Suharto, waktu itu Suharto dianggap sudah memeluk nasionalisme — gayanya sendiri — mirip nasionalisme pendahulunya, Sukarno. Waktu itu Suharto mulai sulit didikte Amerika dkk khususnya IMF. Waktu itu oknum-oknum di sipil dan petinggi dalam tentara “diminta” agen-agen Amerika agar “pembantu” Amerika menjatuhkan Suharto, dengan berbagai rekayasa termasuk kerusuhan, demo menyeluruh masif dan beberapa penembakan atas mahasiswa, dan jatuhlah Suharto. Tapi sekarang SBY setia dan pro Amerika dalam segala kebijakannya, jadi Amerika mustahil membantu misalnya menjatuhkan SBY. Dengan people power? Idih…tak mungkin. Gerakan Massardi? Hanya membaca puisi. Gerakan Effendi Gazali? Juga membaca puisi dan tak jelas. Gerakan mahasiswa? Dosen-dosennya pengecut. Jadi gerakan membela rakyat, itu ku pikir hanya omong kosong dan sebatas di mulut. Semua hanya sebatas di mulut, bukan aksi bertarget. Lagian mahasiswa sekarang terlalu lemah dan mudah terpecah. Jadi jangan berhepotesa. Kalau tak ada penggerak dari luar seperti masa penjatuhan Suharto atau sebelumnya, Sukarno, oleh Suharto sendiri, tak mungkin SBY bisa jatuh. Polri dan Kejagung pun ada agenda lain. Kejagung sekadar meminta gaji naik, meskipun anak buahnya bergaji jauh dari cukup, di saat banyak rakyat negeri ini kelaparan, dan anak serta cucu mereka pada busung lapar, lihat di Nusa Tenggara dll. Jadi agenda menaikkan gaji itu membonceng juga. Hendarman membelokkan ke sana. Kita lebih senang SBY meskipun fakta menunjukkan SBY sepertinya pun tidak perduli bangsa, rakyat dan negara. Lihat, semua departemen pegawainya masih banyak dari anak-anak pejabat yang pernah bekerja disana. Kalau ayahnya hakim atau jaksa maka anaknya juga nantinya bekerja di bawah departemen dan lembaga itu. Kalau bapaknya dulu di BI maka anaknya atau menantunya juga di BI. Jadi dimana reformasi kelembagaan atau birokrasi? SBY tidak melihat penyelewengan itu kok. Untuk masuk kepolisisan dan ketentaraan juga selama ini harus menyuap jutaan rupiah. Mana yang bisa dikatakan pemerintah terutama SBy melakukan reformasi? Apa dia tahu makna reformasi? Lagian sikapnya selalu ambvalen, itu pastinya selamanya. Suatu karakter tak akan berubah. Jadi People Power di negeri ini hanya mitos, Oom. Itu baru terjadi bila ada kekuatan besar dari luar yang membantu gerakan seperti itu, Oom. Banyak yang tidak dilakukan SBY, tetapi kalian tak mungkin bisa berbuat kalau tidak berbuat nyata apapun caranya dan tidak meminta bantuan PBB dan CIA. Kalian harus kirim surat banyak-banyak ke Amnesty International, ke United Nations, ke CIA, yang semuanya tingal browse, buka di Internet websites mereka, mengeluhlah dan samaikan kebrobrokan SBY dan pemerintah itu sekarang! Ketik dan ketik, kirim dan kirim. Dan juga kalian perlu beraksi konkrit dan bertarget. Jadi bertindak dan jangan sekadar berpuisi. Tak kah Oom Oom tahu telinga semua pejabat kita sudah congekan dan mereka sudah tak punya hati nurani? Janganlah berharap keadilan dan hati nurani, itu mimpi, Oom.

  2. EGGY SUJANA cs vs. AHMAD RIFAI cs
    Aku setuju kali dengan opini kisskiss cs.
    Kali ini aku ingin kritisi argumen Eggy, yang sering diburk-burukkan sebagai pengacara hitam, versus Ahmad cs. Aku lihat Eggy orang logis dan hebat. Di TV bang ONE pagi ini Eggy tetap memperlihatkan hal itu, Eggy cerdas kali dengan berkata bahwa proses hukum atas Bibit Chandra, atau menurut saya terhadap siapapun yang sudah ada bukti-bukti awal sangkaan tindak pidana musti dilanjutkan. Negara ini negara hukum, Bung! Bukan negara opini dan perasaan yang menggampangkan alasan situasi darurat! Sebab siapapun sama di hadapan Hukum, ya nggak? Proses paling benar dan adil haruslah melalui pengadilan.
    Ahmad Rifai dan Amir Syamsudin dari Tim 8 merekomendasi proses itu dihentikan jelas salah besar apapun alasannya. Amir melihat kondisi saat ini darurat, itu bohong besar, tak pantas pengacara ternama bicara macam itu; Tim 8 terjebak terperangkap total diperalat SBY, yang mengikuti pola-pola cari aman gaya Suharto! Ini kesalahan besar pendekar-pendekar pengacara/pembela gaek seperti Buyung dan juga Todung ML. Tim 8 harusnya sadar bahwa mereka diperalat oleh SBY dan mundur demi rakyat dan kita mahasiswa. Amir maupun Tim 8 telah mendefinisikan keadaan darudat seenak udelnya. Tidak ada hal apapun saat ini apalagi mengatas namakan keresahan masyarakat dijadikan alasan keadaan darurat. Ini negara hukum! Bayang-bayang keresahan masyarakat kalaupun kelihatan dan ada tidak boleh membatalkan proses hukum, disni polisi dan jaksa ditantang untuk mampu membuktikan. Karena kalau tidak maka justru rakyat dan kita mahasiswa akan mengamuk tidak terkendali. Proses peradilan jalan terus, dan kasus baiout ilegal Bank Century juga harus dijalankan! Kita anggap argumen Eggy jitu dan benar 1000 persen bahwa semua harus diproses dalam pengadilan. Bukti-bukti awal cukup menyeret Bibit Chandra. Mereka hanya mengelak begitu ketahuan, sama seperti Antasari, yang dijebak dan terjebak. Setiap pejabat KPK harusnya waspada, sebab mereka mendapat gaji tinggi dan akses besar dan fasilitas cukup. Mereka manusia biasa yang bodoh menjebakkan diri. Seperti Antasari, Bibit Chandra pun terlena dan lalai, terjebak dalam iming-iming suap. Sikap lalai berat menyangkut kepentingan negara/publik ada proses hukumnya. Semua proses harus berjalan cepat dan jangan sampai memberi kesempatan kepada SBY menjabat 5 tahun lagi tanpa membangun negara seperti maraknya pembangunan era Suharto; Suharto jelas, SBY tidak jelas! Proses hukum Bibit Chandra dan Antasari jalan terus, dan harus bisa menjebloskan mereka dalam bui, begitu pula proses Bank Century harus jalan terus untuk menjebloskan Budiono ke Cipinang. Kita harus sadar itulah sebabnya Budiono diberi kursi empuk sebagai wapresnya SBY, ada apa? Banyak yang melihat sebagian dana talangan Bank Century untuk membiayai kampanye SBY, karena waktu itu tim SBY ketakutan dikroyok Mega, Prabowo dan Wiranto, maka Budiono dijanjikan jabatan wapres.
    Proses hukum di pengadilan ini harus jalan terus. Semua akan ketahuan nanti siapa salah siapa benar. Kalau di Caina, mereka langsung ditembak mati. Kalau SBY berani menempuh jalan itu maka negeri rakyat dengan 1001 derita ini akan berhenti, dan majulah Indonesia. Tapi kali ini negeri ini lagi lagi mendapat pemimpin negara yang palsu. Semua musti kita hentikan sekarang juga, kita musti jalankan People Power, dengan berbagai siasat dan cara, jangan patah arang, kawan, kita selalu solid dan bersama, kita ambil keputusan bila Tim 8 hanya sekadar alat SBY dan SBY tetap tidak jelas! Tak ada kekuasaan sekalipun di dunia ini yang seenaknya dan boleh mengentikan proses hukum. Ini negara hukum, kawan! Segala hal penyalahgunaan negara hukum harus berhenti. Eggy benar, ujung permasalahan negara kita kali ini adalah Presiden SBY itu sendiri yang tidak mennjukkan ketegasan. Kita semakin paham SBY selalu berbohong dan penuh kepura puraan. Tiap hari, tiap jam, tiap detik, dengan lidahnya yang tak bertulang! 5 tahun berlalu tanpa prestasi siginfikan, dan 10 tahun pada 2014 akan lewat tanpa pembangunan signifikan. Suhato berakhir dengan pembangunan pembangunan masif dan luar biasa, kami akui, masih lebih baik daripada SBY yang seperti kentuty dan kurang ajar kepada rakyat dan kita semua. SBY pandai berbohong dengan permainan kata kata dan mengelabuhi kita mahasiswa dan seluruh rakyat negeri ini, sehingga kita tidak mendapat apa-apa yang berarti. Hanya si kaya yang menikmati, si miskin mati. Tidak seperti Malaysia dan negara-negara lain di Asia ini yang justru merdeka lebih belakang, Indonesia sengaja tidak dibagun fasilitas fasilitas ramah publik seperti jaringan KRL dan monorail yang banyak, yang handal, aman dan nyaman dan murah, sementara di negeri dengan rezim biadab ini, listrik dengan alasan macam macam selalu dipadamkan bergilir terus-menerus, Uli benar kok. Kami tambahkan, juga GDP disini tidak meningkat dengan nyata kecuali statistik bohong, ini selalu dibesar besarkan SBY dan menteri ekonominya semakin menunjukkan kebohonga mereka untuk mebohongi media nasional dan internasional, dan tidak ada matauang bernilai. Rupiah tetap di kisaran di atas Rp8000 per satu dolar, ini sesungguhnya sudah kiamat, tidak bisa rezim ini disebut pemerintah atau negara ini disebut negara kecuali kampung besar yang dikuasai boneka mafia pemeras hasil bumi rakyat/negara pemilik sah, rupiah tak ada nilai sama sekali. Rakyat terpaksa mengeluarkan banyak rupiah itupun kalau mereka ada rupiah cukup). Hal kecil saja, SBY membiarkan pimpro pimpro tidak menyediakan fasilitas fasilitas publik pokok seperti WC WC umum yang harusnya gratis (lazim di semua negara manapun) yang bersih tanpa dipungut bayaran, dan rupanya inilah negaranya di bawah rezim SBY yang tidak jelas, negara yang membiarkan abadinya permakelaran, markus-markus, dan yang lain banyak lagi. Maka PROSES HUKUM TERMASUK KASUS TERPENTING BAILOUT ILEGAL BANK CENTURY HARUS JALAN TERUS. HAJAR BUDIONO YANG SOK SUCI TAPI BAJINGAN! KALAU TIDAK, KITA LAKSANAKAN PEOPLE POWER, MENGUGAT DAN MENJATUHKAN SBY YANG TIDAK BECUS DAN TIDAK JELAS.

  3. M e l e n g s e r k a n S B Y – b i s a !

    Tergantung komitmen dan upaya keras kita semua, khususnya kawan-kawan sesama mahasiswa seluruh Indonesia. Juga tergantung bekas-bekas dan jenderal-jenderal, tokoh-tokoh masyarakat, terutama yang di luar kekuasaan, apakah mereka memang masih punya hati nurani melihat banyak rakyat sudah bunuh diri, anak-anak busung lapar, ketidakadilan menjadi-jadi, kini setelah Indonesia di bawah SBY yang berkarakter dan bersikap bukan negarawan.

    Kawan-kawan harusnya jeli dan jangan mau dibodohi dosen kita yang penakut, itu tu pak Effendi Ghazali. Dosen-dosen yang lain tidak boleh bersikap mendua seperti pak Effendi dan harus berani dengan siasat cerdas meraih tujuan reformasi sejati. Melihat berkembangan terakhir sudah saatnya kita semua turun ke jalan untuk agenda tersembunyi yang cerdas. Kita setidaknya saat ini masih suka dengan bung Fadjrul yang selalu vokal dan berani, kita juga suka abang Massardi yang juga berani, setidaknya untuk saat ini, sampai mereka membuktikan mampu melengserkan SBY boneka itu.

    Gerakan 9 Desember tetap dan harus beragendakan pelengseran SBY. Poster-poster berbahasa Indonesia dan Inggris harus dibuat masif dan komunikatif: LENGSERKAN SBY! SBY STEP DOWN! dan sebagainya. Kalau sekadar demo damai basa-basi anti korupsi justru akan menguntungkan SBY yang tidak akan membawa negeri ini baik.

    Sudah enak dia 5 tahun, jangan ditambah berkuasa 5 tahun lagi sampai 2014. Kita semua sudah mengenali watak tidak jelas itu ada pada SBY. Watak tidak mungkin berubah. Kalau selalu ragu dan tidak jelas, Indonesia tidak akan mampu bangkit. Menjatuhkan SBY untuk situasi saat ini justru sejalan, seirama dan seuasi dengan UUD 1945. Lihat, tidak ada satu saja kebijakan SBY yang sesuai dengan UUD 1945. SBY kapitalis tidak, sosialis tidak, agama tidak. Kebijakan ekonomi dan politik SBY justru bersifat makelar dan koruptif masif tersembunyi.

    SBY tidak akan membawa perubahan signifikan dan sengaja membiarkan semuanya liar. SBY membiarkan semakin banyak ketidakadilan hukum dan ekonomi. Karakter tidak mungkin berubah. SBY berkarakter ragu, penakut, pengecut, namun selalu saja mencoba menyusun kata-kata berbunga-bunga, di saat menghadapi berbagai dilema yang harusnya dia pecahkan dengan memuaskan rakyat.

    SBY terinfeksi berbagai sindrom dan penyakit. Sindrom penakut, penyakit menular miskin wawasan kenegaraan dan miskin pengawasan dan pelaksanaan dalam kebijakan pemerintahan. Yang dia kenal, tahu sama tahu. Pejabat atau menteri melaksanakan program sekadar menuruti tren omongan orang tanpa wawasan pembangunan kenegaraan yang benar dan tanpa target manfaat rakyat. Seluruh dana aman dikorupsi bersama, inilah tahu sama tahu.

    Pemimpin negara yang terinfeksi sindrom dan penyakit menular tersebut tidak mungkin membangun negara. Ini sebab SBY nyaman dan menatang terus dengan semakin banyak menyusun kata-kata pidato bohong, menonjolkan pribadi seolah-olah negara miliknya.

    Di facebook dan yang lain, ini tentu saja normal, SBY dibilang l-e-m-o-t, lemah otak. Tetapi SBY tidak menyadari dan malah pura-pura tidak tahu dan tetap merangkai kata-kata pidato mencoba merayu rakyat, dan bersikap defensif.

    5 tahun itu berlalu rakyat tidak mendapat manfaat dari SBYdan 5 tahun lagi mungkin akan berlalu sama. Lambat dan tidak ada tindakan substantif kecuali pembohongan-pembohongan, pembodohan-pembodohan, cara-cara lama yang terus dipakai SBY. Dia tidak menyadari zaman sudah berubah, dan rakyat sangat cerdas. Pasti SBY akan diturunkan di tengah jalan dan tidak lama lagi kalau terus begini.

    Mencermati wataknya selama ini jelas SBY tidak akan berbuat banyak untuk rakyat Indonesia. SBY bukan tipe pemimpin dan apalagi bapak pembangunan seperti Suharto.
    Kepandaian menutupi borok-boroknya adalah khususnya karena abang kita yang pandai bicara dan menutupi kelemahannya, abang Andi Malarangeng, yang maaf ketularan oportunis dan licik. SBY dan abang Andi hanya jenis manusia saleman kata-kata.

    Tentu saja kalau ada di audit komprehensif maka semua proyek periode 2004-2009 bocor banyak, dikorupsi tidak nampak, atas nama proyek-proyek yang tidak ada manfaat untuk kecuali disunat sana sini. Maka SBY terpilih lagi. Korupsi terjadi justru banyak orang ambil manfaat dari pembiarannya. Korupsi merajalela justru karena SBY juga tidak ditakuti.

    SBY mengartikan reformasi sekadar slogan untuk dimanfatkan di pidato bukan memahami makna sejatinya dan luasnya dan dilaksanakan dengan maksimal. Ini juga kesalahan sistem, negara ini tidak punya MPR dalam arti sebagai majelis tertinggi yang bisa “menggantung” presiden buruk dan tidak ada GBHN.

    SBY parah kalau dibandingkan Suharto. SBY mengatakan tidak hutang tapi tetap hutang. SBY pinjam dari ADB dan World Bank tentu bukan dari IMF meskipun saat ini IMF menawarkan hutang baru dengan syarat longgar.

    SBY benar kalau dibilang lemot. Suharto memang pinjam ke IMF dan World Bank tetapi benar-benar untuk pembangunan masif dan tidak banyak bocor. Suharto punya pengawasan dobel tripel. Suharto tegas dan memecat siapa saja yang tidak beres. Dalam kabinet SBY, dana-dana menguap habis. Konon juga untuk mengongkosi kampanye 2009 antara lain dengan pelanjutan program BLT ini. Pemerintahnya konon juga terlibat skandal talangan tak perlu atas Bank Century, yang duitnya konon masuk ke putranya sendiri dan pembantu-pembantunya termasuk ke orang-orang KPU. Penuduh-penuduh bisa salah bisa benar. Mereka mengaitkan itu karena Budiono jadi wapres dan Mulyani kembali ditunjuk.

    SBY tidak mampu apalagi secepat dan setingkat Suharto. Suharto masif membangun termasuk mendirikan industri dan bisnis Batam yang kini sudah memudar, dan Suharto membangun jalan-jalan raya dan yang lain bukan sekadar sebelum kampanye, dalam merayu rakyat. SBY juga tak melanjutkan pembangunan proyek jalan layang dan tol signifikan yang terhenti setelah sekian lama sejak Suharto lengser.

    Di masa Suharto, semua jalan tol, layang dan jalan raya dibangun bagus dan awet karena dana tidak banyak bocor, bukti konkrit Suharto. Dia mengawasi dan memecat pejabat teras yang tidak beres. Suharto tidak kata berbunga tetapi tindakan.

    SBY lebih suka kata-kata berbunga. Suharto bernasionalisme dengan bukti konkrit tersebut. Kalau saja dahulu Suharto tidak dilengserkan pasti Indonesia sekarang sudah sama dengan Malaysia atau sedikit dibawah Singapura. Betapa tidak berartinya SBY saat ini dan dia seallu menutupi malunya bukan dengan lengser tetapi dengan membuat kata-kata berbunga dalam setiap kesempatan pidato. Samasekali tidak lucu. Dan lihat jalan layang Kalimalang itu yang sampai sekarang tetap tidak selesai dibangun, sekian lama setelah Suharto lengser dan sekarang sudah meninggal. SBY membuktikan tidak mampu meneruskan pembangunan manapun.

    Justru presiden boneka seperti SBY yang harus dilengserkan bukan Suharto yang kita sadari ternyata lebih cinta dan perduli rakyat.

    Bangsa ini memang tidak mampu mengenali pemimpin dan negarawan sejati atau bohongan. Suharto cinta pembangunan, Sukarno cinta rakyat, dilengserkan. Sementara, SBY boneka imperialis dan pembohong, dibiarkan, tidak dilengserkan. Kitas selalu dibodohi memaksa lengser presiden adalah makar dan melanggar Konstitusi UUD 1945 adalah kata-kata pertahanan penguasa. Justru menjatuhkan presiden macam SBY yang tidak perform dan tidak menjalankan amanat UUD 1945 adalah menegakkan kosntitusi tersebut. Lihat, tidak ada kebijakan SBY yang sejalan dengan UUD 1945.

    Suharto dalam beberapa tahun terakhir berkuasa berhasil membangun masif untuk rakyat dan bangsa Indonesia, SBY bahkan sampai 2014 juga tidak akan mampu. SBY asyik dengan pidato kata-kata. Ini karean SBY tidak diberi pelajaran oleh kita yang bersikeras menuntut dia lengser.

    Sebagai mahasiswa kita malu punya negara dengan presiden seperti ini yang tidak hanya boneka imperialis tapi juga miskin wawasan bernegara untuk kepentingan rakyat.

    Di facebook dan tv-tv, bahkan SBY dibilang, dan ini wajar saja, l-e-m-o-t. SBY sebenarnya pandai mengambil keuntungan pribadi dan dia telah menganggap dirinya pemilik Indonesia, sebuah sindrom yang lain. Beberapa kawan kita telah membuat analisa psikologis sifat dan watak SBY melalui pidato-pidato SBY.

    SBY menegakkan HAM sebatas HAM kebebasan berekspresi dan inipun sangat lemah karena membiarkan tim hakim di sebuah pengadilan negeri menggangsir kebebasan ini, renungakan kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional, dan SBY tidak minta hakim ketua tersebut dipecat, hanya untuk menunjukkan dia tidak boleh campur tangan, sebuah kepura-puraan dan kebodohan. Padahal jaksa agung dan ketua MA sekalipun diangkat oleh Presiden. Ini mebodohan kepada rakyat. Separah ini tidak mungkin terjadi di masa Suharto.

    SBY bukan menegakkan HAM secara komprehensif dan substantif. Buktinya siapa pembunuh Munir tidak terungkap dan kasus ini lenyap di telan lupa. Tidak substantif, karena jutaan rakyat dibiarkan tidak berubah nadib mereka, ini pelanggaran HAM masif.

    SBY juga membiarkan merajalela korupsi berjamaah dengan memarkup dan menyunat dana-dana proyek pemerintahannya sendiri. Sedangkan ketidakadilan hukum dan ekonomi menjadi-jadi, karena SBY dilihat tidak tegas, dilecehkan. Banyak pejabat dan menteri menjalankan proyek dengan dalih memperbaiki taraf hidup masyarakat, namun yang ada di kepala mereka sesungguhnya hanya bagaimana caranya mendapat jalan sukses berkorupsi tidak kelihatan, dan SBY tahu itu. SBY aman tidak dilengserkan. Indonesia dunia terbalik. Hasil pemilu 2009 sesungguhnya tidak sah karena hasilnya bukan mencerminkan kebenaran, dan juga karena politik duit antara lain jartingan pengaman sosial terselubung, BLT, dan sebagainya. Inilah yang merusak sistem demokrasi. Demokrasi menjadi tidak disukai karena selalu diselewengkan penguasa, dalam hal ini, SBY sendiri.

    Di Iran hari ini kita menyaksikan demo masif yang digerakkan pemimpin oposisi kalah pemilu saat melawan Ahamdinejad. Demo tersebut persis sama sebelum pelengseran Suharto. Gerakan di Iran kali ini didanai CIA dan bertujuan menjatuhkan Ahmadinejad, yang bersikeras tetap memperkaya uranium ke kadar senjata nuklir dan tidak mau menghentikan program ini.

    Di Indonesia esok 9 Desember dan dalam waktu dekat ke depan gerakan mahasiswa itu mungkin tidak akan mampu melengserkan SBY, karena tidak ada negara dan lembaga kuat dari luar yang berkepentingan. Amerika belum ada yang meyakinkan lebih nyaman kalau bukan dengan SBY. Dengan SBY presiden RI, Amerika tetap bisa mangangkuti berton-ton emas dari Papua dan migas dari daerah-daerah yang lain di Indonesia, membantu mengatasi ekonominya yang hancur lebur akibat krisis finansial. Jadi harus ada yang meyakinkan bahwa tanpa SBY kepentingan negeri Paman Sam itu jauh lebih selamat. Belum ada kelompok itu.

    Tetapi Tuhan bisa menghendaki lain, kalau seluruh umat beragama di Indonesia berjuang keras, bangun dan sadar, bahwa negerinya di bawah rezim boneka dan tidak becus, rakyatnya menajdi sengsara, walaupun Indonesia merdeka sejak tahun 1945.

    Yang pasti SBY bisa, bisa dilengserkan, juga atas nama UUD 1945 dan cara lain apa saja kalau mantan jenderal-jenderal terbuang tidak takut; seluruh rakyat menunggu, dan kalau mereka mau bersama-sama jaringan mahasiswa dalam arti luas, dan kalau juga mengajak seluruh tokoh masyarakat penting seperti pak Amien Rais dan pak Gus Dur serta tokoh-tokoh pendemo masa lalu, turun jalan tetapid engan poster-poster jelas, berbagai bahasa, komunikatif, dengan agenda pelengseran SBY.

    Pak gus Dur dan pak Amien punya basis massa masif dan signifikan. Bersama kita mahasiswa seluruh Indonesia dan kalau didukung perwira-perwira TNI dan polisi terbuang dan juga yang aktif, atas nama berbagai pelanggaran dan penyelewengan, kita bisa bersama-sama melengserkan SBY. Lebih cepat lebih baik. Mereka juga harus meyakinkan CIA dan Amerika, bicara jelas jangan mendua, saat ditanya agen-agen CIA. Mereja juga harus rajin mengirim email ke lembaga-lembaga internasional. Mreka juga harus aktif berkomunikasi bisa lewat email dengan CIA dan bertemu dengan agen-agen CIA di Bangkok dan Singapura bahwa SBY bukan harapan rakyat dan rakyat bisa marah masif dan kepentingan Amerika tidak dijamin aman. Amerika pasti tidak ingin kepentingan banyak industri masifnya di Indonesia terganggu akibat pemimpin yang membuat marah rakyatnya. Pak gus Dur dan pak Amien tidak boleh anda-anda orang sekadar bicara tetapi buktikan turun ke jalan dan teriakkan lengserkan SBY juga. Jangan biarkan rakyat itu menderita terus-menerus. Ayooolah, maju terus, sampai SBY benar-benar mundur. Setuju yang mengatakan bahwa pangkal masalahnya adalah sikap dan karakter SBY. Memang.

  4. Saya kebetulan menelusuri soal cicak vs buaya dan saya temukan ini. Kasus itu dibuat selesai, dan fokus kita seperti juga dari mbak Siti, memang harusnya ke “kepala-kepala”. Masalah mudah teratasi kalau dimusnahkan kepala2nya dulu.

    Tampaknya, mbak, masalah baru yaitu ilegal bailout BC itu tergantung bukan mahasiswa saja namun juga kita semua dengan izin Allah. Kita mua harus terlibat aktif bersama seluruh kekuatan mahasiswa, kaum intelektual, tentara berhati nurani, polisi berhati nurani, dan semua komponen rakyat, ber-sama2.

    Kita mahasiswa tidak boleh putus asa, bergerak terus, dengan dukungan materiil dan moril mereka yang oposisi dan ingin menegakkan keadilan. Uang triliunan itu sangat besar bisa untuk membiayai banyak kebutuhan umum anak bangsa ini.

    Harus tetap pada jalan cerdas dan lihai menuju efektif. Apa kata dunia kalau Indonesia dalam korupsi berekayasa ini di saat presidennya senang jalan2 ke luar negeri dengan biaya duit negara duit rakyat.

    Oposisi harus memainkan semua jurusnya, untuk rakyat.

    SBY terbukti memang tidak bermutu. Maka begitu terpicu kuat, kita mahasiswa kak Siti dan rakyat kelompok termiskinkan dan terpinggirkan akan bergerak simultan. Kunci ada di lawan-lawan SBY baik di dalam maupun di luar pemerintahan, apa berniat mempercepat penantian kekuasaan yang terpilih ilegal dengan politik uang, a.l. dengan BLT, atau tetap status quo seperti sekarang dan tidak mungkin menatap cerah ke depan karena PD semakin kuat dengan dukungan curang seluruh birokrasi korup negeri ini, dan puas hanya sebagai pecundang2 bermadesu.

    Tuhan telah beri jalan ampuh, jalan erang dan nyata, yaitu roadmap krusial menuju neraka pemakjulan atau pemunduran wajib untuk Budiono dan Sri Mulyani, untuk menyelamatan SBY, roadmap keadilan bagi rakyat, melalui fokus talangan BC yang tidak sah, akibat penyalahgunaan otoritas oleh Budiobo dan Sri Mulyani.

    Pelaksanaan talangan atas Bank Century apapun pretex-nya sangat melanggar apalagi dengan kilah berdampak luas. Ini tidak mungkin sebab BC hanyalah bank gurem, tidak ada pengaruhnya samasekali dengan banyak perbankan nasional yang mengindikasikan sangat sehat seperti di iklan2 di tv2 kita. Talangan atas BC jelas tidak berdasar.

    Negara ini akan sangat dilecehkan di mata dunia dan berakibat merugikan pemerintah saat ini kalau kasus yang dibuat Sri Mulyani dan Budiono di masa itu, kini tidak diadili dan diebri sanksi tegas. Tidak mungkin investor datang atau mau bertahan di Indonesia, sebab timbul huge distrust trhadap [peemrintah] Indonesia, dan kasus 1998 nak terulang lagi.

    Budiono dan Sri Mulyani nampak pasti terciprat duit haram itu, dengan pengabulan bailout BC tarsebut.

    Ini penyalahgunaan kewenangan sangat memalukan dari Budiono dan Sri Mulyani. Kalau masih ada yang membela mereka ataupun kenampakan baik SBY sebagai pemimpin eksekutif negara adalah cinta membabi buta dan fanatik tanpa mampu melihat kebenaran dan fakta ini.

    Alasan Sri Mulyani maupun Budiono bahwa kalau BC tidak diselamatkan, akan berdampak signifikan pada sistem perbankan nasional, sangat bohong besar, tidak berdasar, tidak masuk akal. BC hanayalah bank gurem.

    Maka DPR, KPK dan MK harus membuat investigasi teliti dan menanyai hingga mengaku kepala PPATK dan menekan Roy Suryo yang juga menyalahgunakan disiplin ilmunya untuk kepentingan pribadi dan PD sehingga dia tidak menunjukkan kebenaran.

    Ingat, macam kami lihat, majoriti rakyat Nusantara tidak hanya haas dan lapar perliahatan keadilan etapi juga sudah haus dan lapar fisikan jasmani betulan. Institusi2 tersebut harus membongkar dan menunjukkan kebenaran kepada rakyat dan memperlihatkan keadilan kepada mereka dengan pemunduran kedua pejabat penyalahguna otoriti tersebut, tak ada jalan lain.

    DPR, KPK dan MK harus bekerjasama dan fokus tetap pada fakta penyalahgunaan kewenangang Budiono dan Sri Mulyani. Jangan ke-mana2.

    Sri Mulyani dan Budiono pasti akan habis dengan fokus ini dengan bukti2 kearah sana. Mereka harus mundur atau dipecat oleg SBY. Kalau SBY tidak membuat ini, dia pun bisa diimpeach.

    Ini bukan soal membela dan tidak membela partai A,B atau C. Ini soal keadilan bagi bangsa.

    Saatnya DPR, KPK, MK menunjukkan ke rakyat sebelum sebentar lagi timbul revolusi sosial yang lebih merugikan. Kini kita mahasiswa tidak diam, kita membuat daftar alamat rumah di dalam maupun luar negeri pejabat-pejabat pelanggar hukum dan wewenang negeri ini. Mereka tidak akan bisa lari, kami akan buru untuk diminta tanggung jawab bila sampai terjadi revolusi sosial.

    Penjeratan efektif adalah dengan menunjukkan bukti2 meyakinkan dan tak terbantahkan bahwa mereka menyalahgunakan kewewenangan dengan talangan sangat sangat ilegal tersebut. Bukti2 dan saksi2 perlu diperkuat dan cukup bahwa kedua pejabat tersebut memang telah menyalahgunakan kewenangan mereka. Habis pasti. Fokus ke sana. Bagi mereka yang pandai, mbak Siti, bahkan SBY melalui roadmap ini mudah dimakjulkan kalau Sri Mulyani dan Busiono tidak diganti. Bola di tangan DPR, KPK dan MK, juga bola ini harus didorong dengan tekanan2 luas oleh gerakan mahasiswa dan kaum intelektual seluruh negeri. Kini bukan saatnya lagi membawa bangsa ini dengan paradigma Orba, yang selalu membuat alur2 cerita dan skenario yang tidak pro rakyat.jalan2 cerita-erita dan dmasiTerserah KPK utamanya dan juga DPR apakah mereka akan saatnya sekarang membuktikan bahwa mereka berani untuk pro rakyat atau akan ikut membodohi rakyat seperti pemerintahan sekarang atau akan didemo besar sekali oleh rakyat dan mahasiswa. Anda dan kawan-kawan anda akan segera melihat bahwa oran2 KPK, ketua MK dan orang2 di DPR yang berani akan anda pilih menjadi pemimpin2 masa depan bila di antara mereka berani mencalonkan presiden menggantikan SBY — sebentar lagi.

  5. Kalau sahaja SBY lebih bersikap pro rakyat.
    By Aisyah binti Solekhan

    Kalau sahaja Presiden SBY mahu lebih bersikap pro rakyat, maka sepatutnya dia membela ex Kabareskrimnal Polnas Susno Duaji. Dialah sesungguhnya yang musti dibuat jawatan sebagai Kapolnas, menggantikan Kapolnas sekarang ni, yang menjenayah banyak orang-orang tak berdosa dengan kilah mereka teroris; ada di antara mereka memang teroris tetapi semua tak. Lagipun, Kapolnas Danuri tu penyokong mafia jenderal-jenderal koruptor. Yalah benar tatkala keberanian Susno berkata bahawa dia pun berani mati dan nak jadi hero, bilakan meninggal untuk kebenaran. Mungkin Duaji tak hanya pantas sebagai Kapolnas baharu tapi Presiden pula, bila sikap Presiden kini SBY jelas pun tak. [Ada opini lain sila majukan ke email saya: aisyahbnsolekhan@msckc.my]

  6. Macam mana kami tak sedih tengok rakyat bangsa serumpun itu, Indonesia, dihancurkan pemimpinnya sendiri, kali ini oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden itu yang diharapkan memihak awak, rakyat, dan patuh serta kembali ke UUD 1945 justeru mengamalkan sifat-sifat buruk, tidak berbeza dengan Suharto. Dia tetap mengabadikan peranthekan kepada Amerika Syarikat, selepas menghantar Menteri Sri Mulyani kembali ke Washington. Sumber-sumber alam Indonesia diambil syarikat-syarikat minyak Ameriks Syarikat, dan Indonesia mendapatkan bahagian kecil sangat, dan itupun dimakan elit penguasa di atas sana.

    Indonesia pun kekurangan tenaga elektrik sangat. Kuasa hidup mati di negeri itu. Walaupun begitu, Yudhoyono takut kepada Amerika Syarikat tanpa alasan jelas dan tidak berani membuat kilang tenaga kuasa dari nuklear macam yang sekarang dibuat kami Malaysia sebentar lagi, Vietnam sebentar lagi, Myanmar sedang jalan, Iran sedang jalan, dan yang lain. Presiden awak presiden pengecut.

    Dari penuturan rakan-rakan kami sesama dari Malaysia yang sekarang belajar di Iran, negeri itu dah kaya raya minyak tetapi masih membuat kuasa nuklear kerana negeri itu ingin minyak semua dieskpor dan elektrik nuklear nak mencukupi sebahagian besar keperluan dalam negeri mereka, tetapi Amerika Syarikat cari banyak alasan dan memfitnah Iran nak membuat senjata nuklear. Itu kelicikan kerajaan Amerika Syarikat. Presiden awak, presiden Indonesia Yudhoyono, bergerak macam pegas, ngeper Perkataan awak. Menyatakan dan niat kepada bosnya, Barack Obama, pun tak berani, macam mana beramal melaksanakan kilang elektrik nuklear? ..

    Hingga sini sahaja, tampak nyata, bahawa Yudhoyono tidak perduli rakyat awak. Itupun tercermin dalam perkara pendidikan, yang penting sangat bagi kelangsungan sebuah bangsa di muka bumi ni. Dia semata membakti kepada bangsa asing Amerika Syarikat. Lagipun walaupun majoriti rakyat tidak memiliki penghidupan, presiden itu tidak menasionalisasi syarikat-syarikat asing, macam yang dibuat Hugo Chavez dan Evo Morales. Kami tidak habis berfikir bagaimana rakyat dan pelajar serumpun itu diam sahaja. Pendidikan misalnya juga sangat mahal untuk bangsa awak bila ditengok dari sudut pandang rata-rata pendapatan rakyat tu. Sistem pendidikan pun tidak jelas. Lebih teruk lagi, Yudhoyono justeru membengkokkan perkara-perkara khususnya walaupun tahu nyata bahawa ujian nasional misalnya dah banyak hancurkan harapan pelajar dan korbankan mereka. Mengapa awak tidak protes dan diam sahaja.

    Rakan-rakan, tengoklah ini. Banyak orangtua awak mengeluh ujian nasional yang menyebabkan korban mati terhadap rakan-rakan awak, tetapi hari ini Yudhoyono justeru mengucapkan selamat kepada gabenor Bali, semata kerana ada seorang siswi di Bali yang mendapatkan nilai tertinggi. Ini sinting lagi gila sikap macam tu kerana ternyata pelajar yang juara itu bukan anak rakyat biasa, misalnya yang serba kekurangan tetapi cerdas. Siswi itu anak orang berkemampuan, dia menadapkan akses pendidikan baik sangat, dia kursus di sebuah institusi pendidikan kursus kelas atas selain juga punya laptop. Apanya yang istimewa?

    Tetap macam itulah presiden di negeri awak. Ketika rakyatnya mengeluh meminta keadilan dan kemakmuran, dibengkokkan 1000 darjat oleh Yudoyono dan menteri pendidikan Nuh, dengan memberi kesan kepada awam bahawa ujian nasional tu sukseslah dan menghasilkan juara. Padahal sebeanrnya ini semata untuk menutup tekanan supaya rakyat tidak meminta persiden pecat menteri pendidikan Nuh dan supaya presiden tidak dimakzulkan melalui pelanggaran perlembagaan dari perkara pendidikan yang salah, dan dari skandal kes bank Century. Pembengkokan itu juga bermakna bahawa ujian timpang sangat itu sila dilupakan sebab ada juara-juara. Kalau sahaja ini berlaku di negeri kami Malaysia, dah kami pecat presiden macam tu.

    Lagipun sudah menimbulkan korban bunuh diri adripada beberapa siswi yang gantung diri, tapi kembali presiden itu membodohi awak. Siasatan macam ini jelas untuk mengekang protes rakyat soal gagal total daripada ujian nasional dalam satu sisi dan prektek haluan pendidikan negeri awak. Liputan televisyen Indon yang tidak bijak dan semata menunjukkan orang sukses tanpa pertimbangkan kenapa mereka berjaya yalah bodoh. Padahal korban-korban tersungkur kerana sistem pendidikan burok di saat generasi muda harapan bangsa tu dah banyak menjadi sampah. Sempurna sudah kemunduran Indonesia kerana tangan-tangan pemimpin sendiri, tangan-tangan mafia kuasa sejak orba dan kini mereka tetap mempengaruhi dan berkuasa, hijrah tak nampak ke dalam kerajaan Yudhoyono, termasuk Yudhoyono sendiri, sementara presiden itu semata mencari selamat dan turut menumpuk kekayaan peribadi dan memuaskan cita-cita dan semata senang jadi presiden, mungkin selamat sehingga genap dua masa, 2004-1014. Mafia jahat itu sekarang tetap bercokol di perisikan negera tu, dipimpin Yudhoyono, mereka ada di polis, mereka harus dibuang semua oleh Yudhoyono. Susno dan Antasari pahlawan dan kebenaran, kapolnas bukan dan kenapa dibiari oleh Yudhoyono. Ini bermakna kapolnas bersekongkol dengan Yudhoyono.

    Paradigma perisikan dan kekuasaan di negeri awak tidak berubah. Mmbunuh harapan bangsa sendiri, mematikan negara sendiri, menhancuri bangsa sendiri. Tengok, ketika rakyat minta jawapan kebenaran, dasar, dan kemakmuran, yang diebrikan selalu pembengkokan, penipuan oleh kerajaan. Cepat ataupun lambat awak pasti nak adakan revolusi rakyat akibat ketidak adilan, wakaupun tangan-tangan jahat tu selalu cuba bengkokkan dan tetap menjawab bukan dengan jawapan yang awak inginkan dari perkara-perkara penting macam perkara pendidikan yang tidak adil dan tidak memebri fasiliti cukup kepada seluruh sekolah di seluruh negeri awak. Presiden dan menetri pendidikan itu bukan tahu perkara pendidikan. Sama sekali. Presiden itu tidak ada membakti dan membela awak sebagai rakyat, bagi masa depan dan kesejahteraan. Jalan yang mereka ambil tidak semata jalan pintas teapi juga blunder total. Misalnya sahaja untuk membuat kebajikan dan memeprbaiki ekonomi, persiden semata membahagi-bagi wang yang majoriti tidak sampai kepada rakyat yang memerlukan.

    Dalam perkara pendidikan, ujian nasional, apa makna beberapa juara kalau para juara itu bukan dari orang-orang miskin melainkan dari kumpulan orang kaya. Tentu tidak ada yang istimewa. Samasekali. Itu ironikal. Kalau yang juara itu dari orang-orang miskin, tidak punya laptop dan tidak disertai kusus-kursus yang mahal, itu baharu hebat.
    Sedih dan sedih dalam sangat. Ketika suasana macam itu, dalam televisyen-televisyen Indon, kita tengok presiden dalam mafia kuasa selalu sahaja membengkokkan perkara. “Itulah pemimpin negeri kau, kata kawan opinioner Indonesia dalam forum ini.

    Lebih teruk lagi, ketika ada orang-orang generasi muda di dalam parti-parti yang mahu menegakkan kebenaran, mereka dicuragi apalagi kalau misalnya datang adri parti Golkar. Parti Golkar memang jahat tapi hanya pemimpinnya. Orang-orangnya macam di parti lain banyak yang hebat. Generasi muda itu mestinya bersatu di antara parti-parti, untuk menggeser serius generasi tua peot. Jadi bila tengok macam situasi negeri awak, awak saat ini sering terbawa bahawa semua pengkritik pasti berasal dari parti Golkar dan PDIP yalah salah besar. Pejuang itu pasti ada dimana-mana. Awak sering curiga mereka semata sebagai nak merebut kuasa daripada Parti Demokrat. Padahal tak selalu macam tu. Tak tahukah kalau Yudhoyono tetap memakai cara-cara lama iaitu: pembelokan dan membengkokkan tu? Presiden tu tak menjawab kehendak rakyat, kerana dia sengaja membiarkan koruptor di kementerian rasuah dengan macam-macam sistem antara lain dalam macam kes ujian nasional, membengkokkan dan menyeleweng substansi-substansi perkara penting macam itu, dan sebagainya.

    Yudhoyono memakai cara Suharto. Jadi semakin cepat awak rakan-rakan mahasiswa Indonesia kritikal terhadap ini semua, semakin baiklah. Mungkin kami berfikir bahawa jalan terbaik buat awak mungkin revolusi rakyat. Sekurang-kurangnya untuk berjaya jangka pendek awak yalah berjaya memakzulkan persdien tu. Lagipun begitu Sri Mulyani ditarik ke Washington, pun senario permintaan Yudyonono, walaupun dia pura-pura tak tahu. Selamat berjuang. Buatlah sejarah revolusi sejati, bukan revolusi berdarah, tetapi tujukkanlah bahawa awak mampu memakzulkan dan masuki kemerdekaan sejati macam kami Malaysia. [Ada opini lebih top lain sila majukan ke kami : zahirohsani@msckl.my ] .

  7. Mungkinkah Nasional Demokrat boleh menjadi sebuah parti masa depan kalau pemimpinnya Surya Paloh orang Aceh, yang tidak disukai tentera dan elit kuasa Indon. Kemaluan Yudhoyono di mana, yang datang mendekat-dekat kepada kami, merayu pada kami kerajaan Malaysia? Ingat, jangan mahu dialihkan perhatian. Bergeraklah. Kami tak yakin rakan-rakan mahu bergerak, sebab macam pemimpin kamu, rakan-rakan hanya bicara semata dan tidak beramal, bergerak nyata, seperti rakyat Thailand. Tak Malukah rakan-rakan mahasiswa Indonesia kepada pemuda Thailand yang gagah dan berani melawan pantang menyerah terhadap status quo Abhisit, boneka tentera Thailand. Kami tak protes kepada kerajaan kami Malaysia, kerana kami semua tanpa kecuali disejahtera dan disampaikan pendidikan baik dan murah buat kami semua SeMalaysia untuk poket kami, saat rakan-rakan dibodohi menteri pendidikan dengan janji tanpa bukti nyata. Baharu diberikan hak-hak kalau rakan-rakan bertanya dan memperjuang terus-terusan. Kenapa rakan-rakan biarkan berterusan kerajaan macam tu ..

    Pertama, bagaimana memaknai pengakuan dosa Sri Mulyani hari ini yang mengaku ia benar-benar membuat kesalahan dan meminta dimaafkan, masyaAllah. Siapa yang meminta dia supaya berkilah dan berdiplomatis macam tu lagi. Mungkinkah itu direka presiden terkuat negeri jiran? Bagaimana nasib wang 6,7 trilion yang ditelan angin dan masa dari skandal bailout bank Century tu. Bayangkan kalau wang sebanyak tu untuk rakan-rakan mahasiswa yang miskin di negeri jiran tu. Rakan-rakan mahasiswa yang ibubapa tidak mampu di Nusantara tu pastilah mampu berskeolah di universiti seluruh Indonesia tanpa orangtua mereka ebrsusah payah. Tapi itu tidak berlaku dalam kerajaan di bawah Yudhoyono yang menteri pendidikannya pandai mengalihkan perhatian macam presiden tu pula dengan perlbagai cara dan membunuh anak-anak bangsa sendiri harapan masa depan negeri tu. Tentu macam kes macam tu (dahulu BLBI kalau tak salah kami paham), wang skandal “atas nama” penyelamatan ‘krisis pertama bank pertama yang bukan bank semua’ tu pun nak hilang ditelan masa pula.

    Mengapa rakan-rakan tak ada yang menggerakkan melawan status quo, kini di bawah Yudhoyono, selepas faham kini Indonesia dah kembali ke masa Order Baru macam Suharto dengan pendekatan halus tetapi tetap tidak menghasilkan hal-hal berguna dan bepemikiran jelas dan merata bagi mensejahterai rakyat tu. Kenapa rakan-rakan tak ada yang menggerakkan macam rakan-rakan kita yang gagah berani di Thailand. Apa rakan-rakan di Indoensia tidak malu sangat dengan rakan-rakan campuran bumiputera dan keturunan Cina Thailand yang gagah berani melawan status quo tu.

    Perkara Sri Mulyani, nyata dia yalah inteltual ulung, yang nanti nak menjebak kerajaan Yudhoyono selepas kepergian Mulyani. Yudhoyono maju kena mundur pun kena. Selepas skandal blunder dan palsu operasi “atas nama” membanteras keganasan yang membunuh keji dan serampangan orang-orang awam tak berdosa, semata kerana projek tempahan dari CIA, kerajaan / kerajaan Indonesia main serampangan membunuh orang awam dengan menuduh mereka pengganas. Ini blunder sangat. Itukah Pancasila sila kedua. Malang sangat, keluarga penduduk tak berdosa itu tidak dibela pembela-pembela ulung, kami jadi ebrtanya adakah Nusantara mempunyai pembela uaung bahkan bagi penduduk sendiri. Dimana Buyung Nasution, yang suka bicara tu. Dimana Mahendra Datta. Dimana yang lain. Nusantara masuk bangsa kegelapan. Dimana syarikat pembela Muslim Indonesia. Teruk sangat kerana Yudhoyono justeru merestui kekejaman kapolnas yang sebentar lagi nak membunuh Susno. Berhadiah tertusuk di belakang, kembali terperangkap ke dalam permainan individu elit berkuasa. Kapolnas menusuk punggung Yudhoyono dengan operasi palsu membanteras keganasan, membunuh orang-orang tidak bersalah. Nanti bila terungkap oleh syarikat-syarikat hak asasi manusia bahawa terbukti yang dibunuh berkali-kali selama ni yalah orang-orang tak berdosa, Yuduhoyono nak digantung mati oleh Mahkamah Jenayah Antarabangsa, kerana harus bertanggung jawab untuk sebuah kejahatan kemanusiaan terkejam dunia abad baharu ni.

    Teruk lagi otoriti tu main tuduh di kami Malaysia terlibat. Di kami tidak ada pengganas dan keganasan, kerana kami negara beradab, berperikemanusiaan, bukan semata teori dan bicara, negara kami mensejahterakan, memakmurkan, memberi pendidikan umum dan ugama baik. Di kami tak ada pengganas dan keganasan bukan kerana ISA (the inetrnational security act) tapi kerana kami pemimpin-pemimpin mensejahterai dan memanusiaakan SeMalaysia. Di Indonesia pengganas dan keganasan justeru datang dari negara, bawahan-bawahan persiden di polis yang otak dan ahtinya dah hilang, cip otak tu dah diganti dengan cip kekejaman, yang melanggar kemanusiaan sejagat, bagi mengalihkan perhatian dari kemungkinan usaha pemakzulan banci parti Golkar dan PDIP melalui sebuah pintu skandal bank Century tersebut. Sri Mulyani ditarik oleh Bank Dunia. Presiden tu nampak sendiri mempertanggung jawabkan skandal yang berlaku di saat undi 2009 yang bertujuan memenangi dia. Di Indonesia, tak ada wang tak menang, itu sebuah keniscayaan, menguatkan teori bahawa wang tu digunakan pemenangan Yudhoyono. Segala perkara hingga kini semua bermakna mengalihkan perhatian dari seawal ketidak absahan kemenangan Yduhoyono yang tdiak sah; tetapi rakyat Indonesia kurang cerdas macam kami dan Thailand. Lagipun, usaha pemakzulan menjadi gagal selepas pemimpin Golkar parti kini bermesraan dengan Yudhoyono. Aburizal harusnya dibuang dari kepimpinan parti tersebut. Ini tugas berat parti-parti lain yang ebrpihak rakyat, khususnya parti PDI-P, Hanura dan PKS dan PPP – kedua-dua diubah meskipun dalam koalisi pelukan permainan Yudhoyono yang tak faham demokrasi yang benar. Mereka harusnya menggerak rakyat bagi membawa Presiden haram tu ke pemakzulan dan rapat-rapat akbar yang berujung demo dan rusuhan macam Thai. Tapi mana mungkin pemimpin-pemimpin ‘pembangkang’ Indonesia semua banci dan impoten. Harusnya rakyat dan khususnya rakan-rakan mahasiswa malaysia belajar dari kehebatan gerakan kaos merah Thailand yang berani sangat menentang kerajaan Abhisit Vejjajiva, boneka tentera dan kerajaan status quo Thailand. Raja status quo itu sebentar lagi mati. Thaksin Shinawatra yalah kaya teguh pendirian dan berpihak rakyat, sempat digulingkan dengan rampasan kuasa tak berdarah. Thaksin yalah pahlawan rakyat. Yudhoyono mungkin pengkhianat rakyat. Dia mensejahterakan khususnya penduduk desa dan mengubati mereka dengan percuma, gartis. Ini tidak dilakukan Abhisit apalagi Yudhoyono yang dua-duanya berpihak kumpulan dan status quo. Bila Indonesia nak berubah, harus ada pemimpin hebat macam Thaksin-Thaksin yang mahu berkorban harta benda dan fikiran bagi mengembalikan Indonesia ke reformasi. Mungkinkah. Tokoh-tokoh yang ada impoten dan banci. Mungkinkah organisasi sosial macam Kebangsaan Demokrat mampu menjadi parti. Mungkinkah Parti Kebangsaan Demokrat, kalau pemimpinnya Surya Paloh yalah orang Aceh. Mungkin sahaja, kalau mereka belajar dari keberanian rakyat Thailand. Kelmarin, Yudhoyono datang kepada kami, meminta macam-macam. Tak Malukah dia berjalan bergaya berwibawa palsu. Padahal negeri yang dipimpinnya dimiskinkan rakyat tu. Kemaluan Yudhoyono mana. Kenapa rakan-rakan tak sedar kalau kapolnas Hendarso, menkokuman Djoko Suyanto dan presiden tu boleh jadi diseret ke Mahkamah Jenayah Antarabangsa, kalau syarikat-syarikat hak asasi manusia kebangsaan dan antarabangsa kritikal terhadap ketiga-tiganya. [Bila ada opini yang lain majukan sahaja ke kami: sitihabibahbintiibrahim@msckl.my ].

  8. Susilo Bambang Yudhoyono tak nak jatuh sebelum 2014 dan justeru dapat menjadi presiden lagi selepas 2014, sedangkan Megawati banyak bicara dan membukti sedikit beramal. Dia tak nak mampu mengambil vote banyak dalam undi 2014. Harusnya putrinya Puan lah yang jadi calon presiden daripada parti PDIP dalam 2014.
    Dapatkah dalam bahasa kami bahasa Malaysia “bolehkah” SBY jatuh sebelum 2014? Tak lah. Justeru SBY nak presiden lagi setelah 2014. Itu tidak sukar dan itu penting bagi meningkatkan derojah bangsa negeri ijran tu. SBY dalam enam tahun ini menunjokkan banyak kemajuan. Pemerintahan atau dalam bahasa kami “kerajaan” SBY bahkan dikhabar nak memindahkan ibunegara ke kota lain selain Jakarta dan menjadikan ibukota saat ini sebagai pusat ekonomi sahaja, ni sangat ideal dan sesuai, kerana Jakata sudah tidak mampu menampung terlalu banyak kemajuan sehingga kacau dan tidak sejalan dengan ibunegara ibunegara bangsa bangsa lain manapun. Gabenor Bank Sentral Indonesia BI yan baru dalam kerajaan SBY juga menunjukkan idea brilian, iaitu bermakna akan meredenominasi matawang ringgit yang bilangan / digitnya terlalu banyak sangat saat ini, misalnya dengan 1USD = Rp 9.000. Sebahagian besar negara-negara lain di Asia sahaja macam kami Malaysia, matauangnya rata-rata dua hingga tiga digit terhadap dollar ataupun matawang besar yang lain. Realiti memang selesa walaupun orang boleh sahaja tidak bersetuju dengan idea itu. Berkenaan dengan itu, kerajaan SBY lebih baik jalan terus dan secepatnya merealisasi idea tersebut.
    Keuntungan redominasi merupakan bayaran terhadap matawang yang lain terutama terhadap dollar tidak perlu mengangkut “satu truk atau satu kapal wang kertas ringgit”. Ketuuntungan lain secara strategik yalah pinjaman Indonesia otomatik nak berkurang pada akhirnya dan USD tidak terlalu penting lagi di mata ringgit macam di kami.

    Macam mana Megawati? Dia baru-baru ini menuding lantang terhadap SBY bahawa Indonesia dalam kerajaan SBY “kacau balau”. Ni tidak baik. Tu hanya bermakna usaha Megawati mencuba kembali memuat hangat namun semua orang mengetahui Mega tak lebih hanya mampu berteriak “merdeka, merdeka,” dan sesungguhnya tak mampu bekerja, buktinya dalam zaman Mega dahulu, Indonesia tidak stabil dan kejahatan tinggi di negeri jiran tu. Dalam kerajaan SBY, Indonesia aman, kejahatan turun tajam; dan apabila SBY pun berani menghukom koruptor besar dengan tiang gantungan macam negeri Caina Tiongkok maka Indonesia hilang korupsi tu dan pabila SBY berani mendesak DPR/MPR bagi membuat UU pembukti terbalik macam di kami Malaysia, maka SBY pasti nak dipilih oleh rakyat tu untuk ketiga kali, makmurlah Indonesia.

    SBY presiden sekarang dan selepas 2014 yalah cocok sangat. SBY boleh menjadi presiden lagi untuk tempoh yang ketiga. Caranya mudah sangat, iaitu dengan menukar Perlembagaan 1945 di mana presidentu akan dapat dipilih untuk ketiga kali, inilah yang telah dilakukan oleh Hugo Chavez sebelum menjawat presiden tempoh masa ini. Dengan kejuruteraan ataupun tatacara cantik di sebahagian besar ahli MPR / DPR, iaitu dengan penukaran Perlembagaan 1945 melalui undian ¾ minimum, maka keterpilihan untuk ketiga kali Yudhoyono boleh dibuat. Bila tidak, maka dan justeru Indonesia boleh jadi nak hncur kerana watak selain Yudhoyono belum ada. Sesungguhnya orang yang realiti mampu memimpin untuk kes Indonesia dan boleh berjaya baik hanya perwira tentera ataupun bekas pegawai tentera macam SBY yang kali dahulu yalah Suharto. Awam Indonesia belum, masih jauh, dan tidak mungkin punya ilmu keorganisasian yang berkesan. Ini sudah membukti sebelum SBY berkuasa. Gus Dur Wahid terlalu kontroversial dan tidak mampu menyatukan Nusantara. Mega kurang pengetahuan kerana tidak sempat sekolah tinggi. Lagipun faktor korps tentera masih kuat dalam kes Indonesia dan negara berkembang pada umumnya. [Bila awak ada opini lain sila majukan pada kami: rainabintiusman@mscterengganu.my].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s