Apa Kabar Korupsi Dana Persib oleh Walikota Bandung?

Aroma korupsi dalam penyaluran dana hibah Pemkot Bandung ini untuk Persib tercium hingga ke luar lapangan. Dana hibah Rp 29,5 miliar itu diduga tidak sepenuhnya digunakan untuk Persib.

BUNYI nyaring ponsel sontak mengagetkan Umuh Mukhtar yang sedang tidur lelap pagi itu. Asisten Manajer Persatuan Sepak bola Bandung (Persib) ini pun meraih ponsel yang ada di samping tempat tidurnya. Saat dilihat, ternyata ada pesan singkat dari rekannya di manajemen Persib. Kekagetan Umuh yang tengah berlibur bersama keluarga besarnya di Kuala Lumpur itu makin menjadi tatkala membaca isi pesannya: Bandung Institute of  Governance Studies (BIGS) melaporkan Manajemen Persib ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

LSM yang bergerak dibidang anggaran ini melihat indikasi penyelewengan dana hibah dari kas Pemkot Bandung untuk Persib. Uang sejumlah Rp 29,5 miliar ini diduga tidak sepenuhnya digunakan untuk Persib. Adalah Dedi Haryadi peneliti dari BIGS yang melaporkan adanya aroma korupsi dalam penyaluran dana hibah pemkot Bandung ini.

Dalam keterangan persnya, Dedi memaparkan empat indikasi penyelewengan dana hibah untuk Persib. Empat indicator ini Ia peroleh dari penelusurannya selama enam bulan dari tahun 2008. Menurut Dedi, laporannya ini sebagian telah diserahkan ke KPK sejak 31 Maret lalu. Selebihnya baru diserahkan Juni ini karena menurutnya masih perlu pembuktian yang lebih kuat.

“Dalam waktu dekat, kami akan memberikan data yang lebih lengkap kepada KPK,” ujar Dedi, Senin (22/6).

Mantan Direktur BIGS ini, pertama kali menyoroti masalah pencairan dana kepada Persib sebesar Rp 29,5 miliar yang merupakan anggaran ilegal. Dedi menyebutnya sebagai dana ilegal, karena berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No 13/2006 yang diperbaharui menjadi Permendagri No 9/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Persib tidak termasuk dalam kategori penerima dana hibah. Pasalnya, Persib masuk dalam kelompok profesional. Dengan begitu, jelas sekali pemberian anggaran tersebut melanggar aturan.

Indikator penyimpangan kedua, lanjut Dedi, yaitu adanya dugaan penggelapan pajak. Dalam kurun waktu lima tahun hingga 2009, total utang pajak Persib sebesar Rp 13,77 miliar. Padahal menurut aturan, pengurus Persib memiliki kewajiban mengatur,  melaporkan, dan menyetorkan pajak uang APBD tersebut. Menurut Dedi, pengurus harus  bertanggung jawab atas tidak dibayarkannya pajak tersebut. Terlebih, pengurus Persib banyak di antaranya yang merupakan pejabat pemerintahan. “Ironis sekali jika mereka sampai tidak tahu kewajiban membayar pajak,” tutur Dedi.

Dugaan penyimpangan yang ketiga adalah mark up gaji dan transfer pemain. Dedi  memperkirakan, anggaran gaji pemain antara yang dilaporkan dengan yang diterima pemain tidak sama. Ia menduga anggaran di-mark up sebesar 10-20 persen. Dedi pun menunjukkan contoh pada kontrak penjaga gawang Persib, Tema Mursadad yang disebutkan memperoleh uang sebesar Rp 750 juta.” Kami menduga uang yang diterima Tema di bawah angka itu,” ungkapnya.

Terakhir, ungkap Dedi, saat pencairan dana hibah Persib, ada pungutan (fee) yang diberikan kepada sejumlah anggota legislatif maupun eksekutif. Untuk membuktikan hal yang satu ini, Dedi mengaku cukup sulit, meski ia pernah mengalami sendiri adanya pungutan saat bertransaksi dengan pemerintah. Namun Dedi yakin, jika KPK turun tangan, dugaan-dugaan itu bisa dibuktikan kebenarannya.

“Kalau transaksi dengan pemerintah, pungutan itu masih tetap ada (sampai sekarang),” papar Dedi.

Pemaparan Dedi langsung dibantah Umuh. Ia menilai tuduhan BIGS tidak berdasar. “Saya tuntut BIGS untuk membuktikan tuduhannya itu,” ancam Umuh. Ia juga membantah bahwa manajemen telah memberikan feekepada eksekutif dan legislatif. Ia pun mempertanyakan soal pajak pemain yang dirasa hanya mengarah pada pemain Persib. Menurutnya, pemain-pemain lain se-Indonesia juga bermasalah dengan pajak tersebut. “Tanya juga mereka dong,” katanya.

Setali tiga uang dengan Umuh, Manajer Persib Jaja Soetardja tidak tinggal diam. Menurut Jaja, pencairan dana hibah sudah sesuai dengan prosedur, yaitu melalui KONI. Selain itu, imbuhnya, pencairan itu pun sudah mendapat persetujuan BPK RI. Mengenai tuduhan mark up, Jaja pun tidak terima.

“Tidak ada pemotongan gaji sepeser pun. Tak sepeser pun kita berani melakukan itu. Karena kalau itu dilakukan, pemain Persib pasti marah. Kurang seribu saja, mereka pasti bertanya-tanya. Kalau tidak percaya, silakan tanya langsung kepada setiap pemain,” tukasnya.

Walikota Bandung, sekaligus ketua Badan Pengelola Persib (BPP), Dada Rosada pun ikut angkat bicara. Dada mengaku tidak gentar jika pihaknya diperiksa KPK. Ia bahkan  mempersilakan KPK turun tangan dan membuktikan dugaan itu.

“Silakan saja lapor ke KPK. Kalaupun nantinya terjadi penyimpangan, kan pasti ada pemeriksaan lebih lanjut lagi,” ujarnya, Selasa (23/6).

Seperti halnya Umuh, penjaga gawang Persib, Tema Mursadat, yang namanya disebut-sebut sebagai contoh kasus oleh BIGS, langsung menyampaikan klarifikasinya. Menurutnya, selama dua musim memperkuat Persib, tidak pernah ada pemotongan gaji atau uang kontrak.

“Jangankan dipotong, telat saja malah pemain yang suka galak,” kata Tema sambil tersenyum.

Senada dengan Tema, pemain-pemain Persib lain pun menyanggah dugaan BIGS tentang pemotongan gaji dan nilai kontraknya. Meskipun mereka tidak bersedia menyampaikan besaran nilai kontraknya, namun mereka memastikan uang kontrak dan gaji yang diterima sesuai dengan nominal yang tertera dalam klausul kontrak.

“Kalau saya pribadi, tidak ada masalah. Uang kontrak dan gaji yang saya terima, normal sesuai dengan nilai kontrak. Saya tidak tahu kalau pemain yang lain,” kata penjaga gawang Persib, Cecep Supriatna.

Dedi, menjelaskan, perbedaan nominal gaji dan kontrak pemain bisa saja tidak diketahui langsung oleh mereka. “Ini kan permainan atas,” katanya. Makanya, lanjut Dedi, tidak mengherankan jika selama ini Persib selalu kekurangan dana. Mengenai laporannya ke KPK Dedi mengaku belum melaporkan semua dugaan tadi. Ia mengungkapkan, sementara ini, hanya tiga poin yang diserahkan.

Sementara poin keempat, yaitu soal fee dana hibah, baru dilaporkan bersamaan dengan mengirimkan berkas yang diminta untuk dilengkapi. ”Sebagai masyarakat, kita hanya menduga dan melaporkan adanya penyimpangan. Soal penyelidikan dan pembuktian dugaan itu, biar KPK saja yang menangani dan membuktikannya,” ujarnya.

Namun yang lebih penting untuk disoroti, jelas Dedi, adalah soal penyaluran dana hibah itu  sendiri. Menurutnya, selama ini Walikota Dada Rosada memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dedi pun memaparkan keuntungan Dada saat dipilih  kembali menjadi walikota tahun lalu. “Dana hibah itu digunakannya untuk menaikan pamor. Seolah-olah dana itu dari dirinya (Dada-red.) sendiri,” katanya.

Pernyataan Dedi diamini kepala Kejari Bandung, Sri Harijati. Kejari, ungkap sri,  kemungkinan besar akan juga turun tangan memantau, dan memeriksa dana hibah yang digulirkan Pemkot Bandung. mengenai dana hibah Persib, Sri mengaku siap bertindak.

“Ini sebagai komitmen kita akan konsisten untuk menyelesaikan kasus tindak pidana korupsi,” kata Sri. Menurutnya, hal ini senada dengan instruksi dari Kejati untuk menelusuri dana bansos yang terindikasi korupsi paling besar.

■  Ukay Sukaya Subqy | Indonesia-monitor.com

2 thoughts on “Apa Kabar Korupsi Dana Persib oleh Walikota Bandung?

  1. emang paling enak tuh tinggal make duit negara ga usah pusing nyari duit,,…..eh belum apa-apa udah di cut duluan

    Ayo PErsib aing, tu kudu make dana APBD ah tunjukkeun Profesionalitasmu…

    Maju terus Persib

  2. makan tuh ga pake APEBEDEH, slama ini ngataen klub laen masih pake APBD, kenyataannya gini, udeh APBD korup lagi

    pantes puasa gelar dari taun 94 wkwkwk
    maungnya jadi MEONG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s