Impor Renyah ‘Daging Berjanggut’

Seratus empat puluh tiga kontainer berisi daging impor menumpuk di pelataran Jakarta International Container Terminal, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kamis siang pekan lalu, belasan petugas berompi oranye dan berhelm putih berkeliling mengecek suhu peti-peti kemas berpendingin khusus untuk menyimpan daging tersebut.

Sebanyak 2.750 ton daging impor itu bermasalah. Lima puluh satu kontainer dalam pengawasan Badan Karantina Pertanian. Sisanya di bawah penanganan kepabeanan. Badan Karantina tidak meloloskannya karena ada ketidaksesuaian keterangan di dalam surat izin impor yang meliputi- negara asal, perbedaan jenis barang, dan kelebihan tonase. Bea dan Cukai belum mengizinkan daging-daging impor keluar lantaran dokumen pemberitahuan impor barangnya belum lengkap.

Menteri Pertanian Suswono, Direktur Jenderal Peternakan Prabowo Respatiyo Caturroso, dan Kepala Badan Karantina Banun Harpini bersama rombongan wartawan telah melihat ratusan kontainer daging impor itu, Jumat siang dua pekan lalu. Asap dingin menyembul keluar tatkala se-orang petugas membuka kontainer milik PT Sukanda Djaya. “Ini contoh barang yang dokumennya lengkap. Sesuai aturan, sebentar lagi izinnya pasti keluar,” kata Menteri Suswono.

Badan Karantina, institusi yang bernaung di Kementerian Pertanian, tak bisa mengurus puluhan kontainer daging impor itu lantaran masih berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, instansi di bawah Kementerian Keuangan. “Ini di luar yurisdiksi kami,” ujar Menteri Suswono.

Kisruh daging impor mencuat sejak pertengahan Januari lalu. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia Thomas Sembiring, sengkarut terjadi karena masa berlaku izin impor yang pendek, menjelang tutup tahun. Pada 15 Desember 2010, Direktur Jenderal Peternakan-saat itu dijabat Tjeppy D. Soedjana-menerbitkan surat persetujuan pemasukan daging sapi sebanyak 15 ribu ton. Surat izin tersebut kedaluwarsa pada 31 Desember 2010.

Surat izin yang berlaku cuma 15 hari itu jelas tidak masuk akal. Perjalanan barang-dari Australia, misalnya-membutuhkan waktu 3-5 pekan. Toh, para importir nekat mengajukan permohonan karena biasanya Direktorat Jenderal Peternakan bersedia memperpanjang masa berlaku izin. Rupanya, kebiasaan lama ini tak berlaku lagi. Prabowo, Direktur Jenderal Peternakan yang baru, ogah memperpanjang tenggat. Saat daging-daging beku itu tiba di Tanjung Priok pertengahan Januari lalu, Badan Karantina tak memberi lampu hijau pengeluaran barang. Alasannya, surat persetujuan pemasukan sudah kedaluwarsa.

Pengusaha semakin meradang gara-gara pemerintah juga mengerem mendadak volume impor daging menjadi hanya 50 ribu ton. Padahal realisasi impor tahun lalu mencapai 120 ribu ton. Semester pertama tahun ini, volume impor daging diputuskan 25 ribu ton saja. Celakanya, importir-importir besar mendapatkan jatah jauh di bawah harapan. PT Indoguna Utama, misalnya, mengajukan permohonan izin impor 7.280 ton, tapi hanya kebagian 1.160 ton. Tahun lalu, Indoguna mengimpor lebih dari 14 ribu ton. Pemain besar lain, PT Anzindo, hanya kecipratan 1.777 ton dari 2.397 ton yang diajukan.

http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/pks.main.daging/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s